News Update :

Global News

More news »

Tutorial blogger

More Tutorial »

Informasi Gadget

Lirik lagu lainnya »
Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

SETELAH KAU MENIKAHIKU

“Sebelumnya, aku ingin tanya satu hal, dan ini sangat sangat penting,
jadi aku perlu jawaban terjujurmu. Apa kau percaya kepadaku?”
Kutatap Idan dengan dahi berkerut. Ia telah jadi sahabatku selama
puluhan tahun. Banyak yang berubah dalam hidupku, dan setidaknya enam
lelaki telah hadir dan menghilang dari hidupku. Hanya Idan yang tak
berganti. Ia seakan-akan selalu siap mengulurkan tangan menolongku,
sementara sense of humor-nya tak pernah gagal membantuku keluar dari
depresi yang paling parah sekalipun. Kalau ada satu laki-laki di dunia
yang kuhadapi dengan skeptisisme nyaris nol, hanya Idan orangnya.
“Ya. Aku percaya kepadamu.”
“Kalau begitu, percayalah bahwa yang kulakukan ini semata-mata untuk
kebaikanmu. Percayalah bahwa aku sama sekali tidak memiliki niat jahat
terselubung di balik ideku ini. Percayalah.”
“Idan! ” potongku tandas. “Ide apa?”
“Aku ingin mengajakmu mengadakan sebuah eksperimen,” ia bicara dengan
hati-hati, kedua matanya terpancang pada ekspresi wajahku. “Kita akan
melakukan pernikahan.”
“Apa?”
“Simulasi!” lanjut Idan sesegera mungkin. “Tentu saja lengkap dengan
semua formalitasnya, lamaran, akad nikah, kalau perlu honey moon….”
“Bulan madu?”
Idan mengangkat tangannya menyuruhku diam, ”Simulasi”. Sekali lagi,
simulasi. Setelah itu kita akan menjadi suami istri —-simulasi—- sambil
mempelajari kenapa kebanyakan manusia yang normal dan waras begitu
berambisi untuk berumah tangga. Kalau pada akhir eksperimen kau merasa
yakin bahwa kerugiannya tidak sebanding dengan keuntungannya, kita
bercerai dan kau bisa hidup lajang, merdeka selama-lamanya. Kalau
ternyata kau kecanduan hidup sebagai istri, kita bercerai dan kau bisa
cari suami yang paling cocok untukmu. Anggaplah ini Sebagai tes untuk
melihat apa kau akan memilih menikah atau tidak. Tanpa komitmen, tanpa
penalti. Bagaimana?”
“Idan,” desisku. “Ini ide terbodoh yang pernah kudengar.”
“Semua gagasan jenius selalu diolok-olok pada awalnya,” sanggah Idan
mantap. “Pikirkan, Pit. Ini satu-satunya cara supaya kita bisa belajar
seperti apa pernikahan itu sebenarnya tanpa perlu sungguh-sungguh
menikah. Kau tidak mungkin melakukannya dengan laki-laki selain aku,
yang telah terbukti memiliki sifat ksatria, dapat dipercaya dan teguh
pendirian….”
“Serius, Idan, serius!”

penasaran dengan kelanjutan kisah ini? memang benar benar terlalu sayang untuk di lewatkan. download aja kelanjutan kisah ini disini gratis tis tis tis kok.........

BIDADARI UNTUK IKHWAN

“Ustad, kalaulah ustad sudah memandang ana pantas menikah. Dan akhwat yang antum
pilihkan itu adalah yang terbaik buat ana. Ana, bersedia ustad!” ucapku lirih.
“Alhamdulillah.. baik kalau gitu kita atur besok.” Ustad Fadlan terlihat sangat senang.
“Ustad. Kalau boleh tahu, siapa nama akhwatnya?” tanyaku
“Namanya, Zahra! Insya Allah antum tidak akan kecewa!” ucap ustad Fadlan tegas
sambil tersenyum. Dikamar, aku memikirkan apa yang telah aku ucapkan. Entah aku begitu bimbang
dengan perkataanku. Atau mungkin aku terlalu terburu-buru menjawabnya. Aku
seharusnya meminta waktu untuk memikirkannya. Aku tak tahu harus berbuat apa.
Kebimbangan menggelayuti diriku. Pikiranku melayang, entah apa yang aku pikirkan.
Seakan, bayang-bayang sekilas wajah-wajah wanita yang aku kenal berjalan bergantian.
Nova, wanita cantik itu berjalan sambil tersenyum padaku. Wajah indonya memukauku.
Sungguh kecantikan yang luar biasa dianugerahkan Allah pada gadis kafir itu. Ukhti
Farah, bagaikan seorang bidadari yang tersenyum anggun padaku. Wajahnya tertunduk,
malu. Sesekali matanya melirikku dan saat aku melihat matanya dia langsung
menunduduk. Benar-benar seorang bidadari. Sungguh wanita-wanita dambaan pria.
Tetapi mereka akan lepas dariku. Mereka tidak akan menjadi milikku. Dan aku tidak
boleh lagi memikirkan mereka. Memang benar kata teman-temanku kalau “Ikhwan juga
manusia, punya rasa cinta juga. Jangan samakan dengan Rasulullah.”

penasaran pada kelanjutan kisah ini? download aja disini gratis 100% kok... :D

CINTA LELAKI BIASA

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak
menyukai Rafli.
Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa,
dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!

penasaran? mo membaca kejanjutan jalan cerita ini? download aja pdf nya disini gratis 100% gan :D

PEMBAWA KABAR DARI ANDALUSIA

Semilir angin musim semi memancarkan keindahan di salah satu sudut kota pengantin;
Andalusia. Di sekitarnya taman-taman dan tunas pepohonan tersinari cahaya matahari berwarna
keemasan. Ia memang tampak seperti lingkaran emas!
Di bawah kedua bukitnya, mengalir sungai yang bening laksana perak murni. Perahu-perahu
kecil berlayar membentangkan layar bagaikan kepak sayap merpati dan hijau daun yang
merindukan bunga. Para nelayan bertolak dengan diiringi nyanyian. Penuh cinta.... Penuh cita.
Sarat kesungguhan dan patriotik! Mereka melantunkan nyanyian dengan bermusikkan angin
sepoi-sepoi namun terdengar layaknya seorang penyanyi mahir dengan suara merdu. Sebuah
nyanyian yang menyirnakan ombak derita, tercopot oleh setiap bait lagu yang mereka nyanyikan.
Di atas sungai, terbentang jembatan panjang yang dibangun Umar bin Abdul Aziz. Jembatan itu
berdiri tegak dengan angkuh, seolah hendak menunjukkan kejayaan pemerintahan abad ke-XVII.
Kokohnya seakan tengah menyuratkan pesan ketidakmampuan zaman mana pun untuk
menandinginya.
Demikianlah gambaran Cordova pada tahun 423 M. Pada masa pemerintahan Abu Hazm bin
Jahwar di saat para penguasa terlena gelimang jabatan dan kekayaan" sehingga banyak timbul
kekacauan, kesengsaraan, bahkan kemusnahan kota tersebut.
Inilah Cordova pada masa sang pahlawan, Lidinillah, harapan dunia dan kiblat setiap umat.
Dialah sosok panutan belahan timur dan barat. Pancaran cahayanya mampu membinarkan mata
di mana setiap pencari ilmu dari seluruh pelosok negeri berguru kepadanya. Mudah-mudahan
mereka mendapatkan ilmunya walau sedikit. Atau, mereka bisa mendapat petunjuk di tempat api
klik disini untuk membaca kelanjutan cerita ini free download

AKU MENGGUGAT AKHWAT DAN IKHWAN

Entah kenapa, aku seperti berbunga-bunga saat melihatnya. Apalagi saat dia
berjalan diperkampungan kumuh itu. Aku bagaikan melihat seorang mujahid, yang
melangkah pasti dalam barisan tentara Allah. Seorang penjuang yang terus
mendambakan surga ketimbang dunia. Seorang yang tiada hentinya berdakwah dalam
arus ketidakpastian dalam materinya. Seorang yang merasa tidak pernah kekurangan
dalam segala hal selain pahalanya. Bahkan untuk urusan dunia sekalipun. Dia tidak
pernah terlihat menginginkannya. Ya Allah, teguhkanlah sikap dia tetap dijalanmu!
Hadiahkan bidadari kepada dia didunia maupun disurga-Mu. Aku benar-benar
bangga terhadap dia. Aku tidak akan layak untuk bisa mendampinginya. Sungguh
seorang ikhwan yang begitu tegar dalam perjuangan-Nya. Subhanalah. Ucapku lirih
dalam hati.
klik disini untuk kelanjutan cerita novel ini free download

KARENA CINTA

“Aku ingin memutuskan pertunangan kita, Dee” kalimat itu meluncur lancar dari mulut Andre tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Apa..Kamu ingin berpisah denganku?!” Dee memekik. Memutuskan pertunangan yang sudah berjalan selama 6 tahun,. Ini bunuh diri namanya.
“Ya, dan keputusan ini sudah aku pikirkan dengan matang.”
“Ya, tapi apa salahku sehingga kamu ingin memutuskan pertunangan ini. Bukankah kita sudah sepakat akan menikah tahun depan?” Mata Dee mulai memanas. Hatinya terasa tercabik-cabik. Tapi wajah Andre tetap tenang seolah ini bukan masalah besar.
“Kamu tidak bersalah. Aku yang bersalah karena telah membiarkan hal ini terjadi.”
“Apa yang salah, sayang?” Dee berusaha untuk menenangkan diri“Please, Dee. Jangan panggil aku seperti itu. Karena hanya akan menyakiti kita berdua.”Dee semakin sakit hati mendengar penolakan kata ‘ sayang ‘ yang biasanya dia ucapkan pada Andre. Akhirnya Dee memilih diam untuk mendengar alasan Andre.
“Aku berhubungan dengan seorang wanita, Shakira. Dia rekan sekerjaku. Kami sudah dua bulan memutuskan pacaran. Maafkan aku, Dee. Selama dua bulan ini aku telah mengkhianatimu.” Tangan Andre menyentuh tangan Dee, berulang-ulang tangan Dee diciuminya.
“Mungkin aku memang tidak secantik wanita yang kamu impikan, Dre. Tapi apakah aku layak menerima penghinaan ini? Tapi sudahlah, Dre. Jika kamu memang memilihnya, aku akan pergi.”Dee menarik tangannya dari genggaman Andre lalu beranjak pergi membawa rasa sakit yang tak terhingga.
***


“Mom, ijinkan aku pergi ke Canada. Kesempatan ini jangan disia-siakan, ini kesempatan aku untuk mendapatkan S2 di tempat yang bagus.” Pinta Dee pada Mom.
“Dee, kamu sudah memutuskan untuk tidak ikut beasiswa ini. Apakah karena sakit hati pada Andre kamu merubah rencana itu ?”Tanya Mom bijak. Mom pasti tahu benar apa yang dirasakan Dee. Ya, karena Andre, dia memutuskan pergi ke Canada.
“Jangan pergi sayang, jika hanya itu alasannya. Mom pikir ini tidak bijaksana bagi dirimu sendiri. Mom akan mengijinkan kamu pergi jika memang ini memang betul-betul keinginanmu, bukan untuk sebuah pelampiasan.”
“Mom, aku harus pergi. Aku tidak mau larut dalam kesedihan ini.”
“Dee, mungkin Andre memang bukan jodoh yang baik untukmu. Sebab itu dengan alasan apa pun Tuhan telah memisahkan kalian berdua.” Mom berusaha menghibur Dee. Lalu Dee menangis di pangkuan Mom. Dee begitu terpukul atas kejadian ini. Rasa kehilangan Andre membuatnya tidak yakin kalau dirinya masih hidup. Rasanya separuh dari nyawanya telah terbang ke langit bersama jutaan impian yang ingin dia raih bersama Andre. Dee begitu mencintai Andre, rasanya Andre pun demikian cinta pada Dee. Tapi cinta yang diberikan Shakira telah mampu meluluhlantakkan perasaan yang telah mereka bina bersama selama 6 tahun.
“Mom, ijinkan Dee pergi.” Dee seolah memohon kepada mom untuk mengijinkannya pergi. Jika Mom tidak mengijinkan ke Canada, Dee akan pergi kemana pun yang Mom ijinkan. Asal tempat itu jauh dari sini, dimana kenangan akan Andre terus membayanginya, menyiksanya, dan menenggelamkannya dalam lautan airmata.
“Baiklah, jika itu memang dapat membuatmu lebih bahagia. Dan dapat memberikan suatu perubahan pada hatimu. Mom hanya ingin kamu melupakan apa yang terjadi, lupakan masa lalu dan raih masa depanmu.” Akhirnya Mom mengijinkan Dee pergi.
“Terima kasih, Mom. “Dee semakin mempererat pelukannya.
***


Tiga tahun kemudian.
Mom menjemput Dee di bandara.
“Dee, Mom kangen sekali sama kamu.” Mom memeluk Dee seerat mungkin.
“Dee juga, Mom.” Rasa haru menyelimuti Dee. Akhirnya Dee kembali ke Indonesia setelah tiga tahun mengasingkan diri.
Mom menyetir sendiri.
“Sejak kapan Mom memiliki mobil?” Tanya Dee. Rasanya aneh Mom menyetir. Biasanya Mom kemana-mana naik taksi.
“Sejak kamu pergi. Mom kesepian sekali di rumah, Dee. Kucing-kucingmu juga demikian. Karena itulah mereka semua minggat.” Ups, Dee jadi lupa pada tujuh ekor kucing yang ditinggalkannya pergi. Apa benar kucing-kucing itu minggat semua dari rumah gara-gara kesepian tanpa aku, dan Mom menyetir sendiri agar bisa jalan-jalan karena juga kesepian tanpa aku, tapi apakah Andre juga kesepian begitu ditinggal olehku? Dee bertanya-tanya dalam hati. Andre tak mungkin menyesali kepergiannya, bukankah dia telah memiliki Shakira yang cantik dan menawan.
“Kok melamun?” pertanyaan Mom membuyarkan lamunan Dee. Dee menggeleng pelan. Kenapa harus selalu ingat Andre, seharusnya Dee membenci Andre yang telah menendangnya dari impian cinta. Tapi untuk apa membenci Andre, kebencian takkan membawa Andre kembali padanya. Mom benar, Andre bukan jodoh yang baik untuknya. Kalau bukan karena Andre, Dee akan kehilangan kesempatan meraih S2 dan memperoleh karier yang sedemikian cemerlang sebagai seorang Arsitek. Ada hal buruk dan hal baik yang harus dia pikirkan untuk memutuskan apakah Dee harus membenci atau justru berterima kasih pada mantan tunangannya itu.
“Aku hanya mencoba mengingat lagi kenangan di sini.”
“Oh, forget it. You have a good future, honey. Lupakan masa lalu, Dee. O, ya Mom hampir lupa. Kemaren ada undangan pameran lukisan dari temanmu.” Ujar Mom sambil menyerahkan sebuah undangan berwarna pink. Temanku? Tapi siapa yang mengundangku? Pertanyaan itu berkecamuk di dada Dee. Bukankah tak ada seorang teman pun yang tahu kepulangannya hari ini.
“Siapa Mom?” Tanya Dee, Mom menggeleng pelan.
Tapi sudahlah siapa pun yang mengundang tak perlu diributkan, yang jelas Dee memang sudah rindu berat dengan lukisan-lukisan indah.
***


Dee menghirup wangi cat yang berasal dari lukisan yang di pajang di ruang pameran. Hati Dee begitu bahagia dapat memanjakan matanya melihat lukisan-lukisan itu.
“Dee..” sebuah suara laki-laki membuyarkan konsentrasinya.
“Ya..”Dee kaget saat melihat seorang laki-laki dengan wajah yang begitu berantakan. Seluruh wajah yang penuh dengan jahitan.
“Terima kasih, kamu mau datang ke pameran lukisan pertamaku.” Ujar laki-laki berwajah aneh itu. Dahi Dee mengkerut.
“Sama-sama, terima kasih juga telah mengundangku. Apakah kita pernah bertemu sebelumya?” Tanya Dee pada laki-laki yang asing di matanya. Laki-laki tertawa.
“Rupanya kamu benar-benar telah melupakanku ya? Tiga tahun kamu menghilang, Dee. Dan tiga tahun aku kesepian.” Dahi Dee kian mengkerut.
“Aku, Andre…”What! Jantung Dee nyaris copot, benarkah ini Andre? Andre yang menyakitinya tiga tahun lalu, Andre yang tampan. Apa yang terjadi dengannya?
“Andre, Dee. Masih kamu ingat? Oh, maaf, kamu mungkin takkan ingat. Wajahku sekarang sudah berubah, Dee. Kecelakaan itu mengambil semuanya dariku, uang, wajah, dan sebuah rasa sakit. Shakira telah meninggalkanku saat aku jatuh. Dia tak mau menerimaku dalam keadaan cacat dan miskin. Kamu tahu, Dee. Selama itu aku mulai menyadari bahwa aku telah menyakiti wanita sebaik kamu. Karena itulah aku terus mencarimu. Awalnya Mom tak mau memberitahukan kemana kamu pergi, namun setelah Mom tahu betapa aku menyesali dan ingin memperbaiki semua kesalahan ini, Mom akhirnya menyerah dan selalu menceritakan keadaan dirimu, Mom juga memberitahukan mengenai kepulanganmu kemarin. Aku minta maaf, Dee.” Panjang lebar Andre menjelaskan peristiwa yang membuatnya seperti ini. Airmata Dee bercucuran. Ah, Andre tega nian Shakira melakukan ini padamu.
“ Satu yang tidak hilang dalam diriku, Dee. Semangatku, aku selalu bersemangat untuk maju. Sampai akhirnya aku berhasil mengadakan pameran lukisan pertamaku ini. Semata karena aku ingin memperoleh impianku dan untuk memperbaiki seluruh kesalahanku padamu. Aku ingin bersamamu lagi, Dee. Berikan aku kesempatan. “ Andre memelas pada Dee. Batin Dee menjerit. Haruskah dia menerima dan memberi Andre kesempatan itu?
“Aku janji takkan pernah melukaimu lagi. Aku mencintaimu, Dee. Aku akan mengoperasi kembali wajahku dan menjadi Andremu yang dulu.” Butiran airmata Andre turun perlahan.
“Dre, Aku mencintaimu, dulu, hari ini, dan masa nanti. Tak peduli seperti apa kamu sekarang.” Dee memeluk Andre. Ya, Dre, karena cintalah aku memberi maaf sebelum kamu meminta maaf, karena cinta aku memberi kesempatan sebelum kamu meminta kesempatan itu, dan karena cinta aku menerimamu apa adanya. Desah Dee dalam bahagia.

CINTA ISLAMI BILA HARUS MEMILIH

Cerpen Cinta Islami Bila Cinta Harus Memilih. Sebuah cerita pendek tentang cinta, ketika cinta harus memilih. Cerpen cinta romantis anak SMA yang bingung mencari cara mengungkapkan perasaan cinta. Cerita pendek cinta islami yang menceritakan antara mencintai sesama dan mencintai-Nya.

Cerpen Cinta Islami Romantis Bila Cinta Harus Memilih
Berikut Cerpen Cinta Islami Romantis “Bila Cinta Harus Memilih” Oleh: Sigit Nur Setiyawan
***
Bel masuk sekolah membuat suasana menjadi ramai, sebagian anak-anak kelas 2 B mempersiapkan catatan kecil yang ditulis di meja untuk nyontek karena konon kabarnya pagi itu akan
diadakan ulangan matematika Pak Budi yang super killer itu. Tapi sebagian yang lain seperti gak takut akan adanya ulangan matematika, malahan mereka pada ngerumpi masalah aktual seputar film, hiburan dan terutama cowok dan cewek mereka.


Wawan salah satu makhluk penghuni kelas 2 B yang termasuk anak rajin dan selalu dapat ringking itu kelihatan santai kaya gak akan terjadi apa-apa aja pagi itu. Dia malah sedang asyik mencorat-coret buku tulisnya dengan beberapa huruf yang dirangkai menjadi sebuah nama. Mungkin dialah nama yang menjadi pujaan hati Wawan. Ya Anggi nama gadis imut-imut bendahara Rohis yang terkenal ulet dan pantang menyerah dan berpenampilan cool itu ternyata telah berhasil mengisi renung hati Wawan.

“Kamu sungguh manis Nggi, manis orangnya dan manis kepribadiannya” gumam Wawan dalam hati.

“Anggi, andai aja kaMu tau perasaanku padamu, apakah kamu akan menerimanya?” Wawan terus-menghayal tanpa memperhatikan Pak Budi yang sudah berdiri di depan pintu Kelas 2B.

Lamunan Wawan pada pagi itu mendadak menjadi hilang ketika Pak Budi The Killer Man itu datang ke kelas dan membagikan soal ulangan harian.

Ya pagi yang berat telah dilalui oleh naka-anak kelas 2 B SMU Biru itu. Rasa lega dan gembira dilukiskan dengan berbagai ekspresi. Ada yang meloncat kegirangan dan ada yang biasa-biasa saja termasuk Wawan. Ulangan itu ternyata gak menggoyahkan konsentrasinya buat ngebayangin wajah nan manis dengan kedua lesung di pipi ketika tersenyum.

***
Bel istirahatpun berbunyi. Anak-anak pada bubar berhamburan di halaman. Ada yang segera ke kantin buat ngasih makan cacing di perut yang udah dari tadi nyanyi terus minta jatah makan pagi. Tapi ada sebagian yang malahan pergi ke musholla buat sholat Duha.

Wawan, Indar, Paras dan Taufiq adalah sebuah gank anak Rohis yang keliatan kompak banget. Kalo istirahat pertama gank itu saling berebut shof pertama buat sholat duha. Begitu juga halnya dengan Anggi sang idola di Rohis itu, juga hadir tuk njalanin sholat duha. Seperti biasa setelah sholat, makhluk penghuni musholla itu tidak langsung pulang ke kelas masing-masing, mereka biasa ngetam di Perpus musholla buat ngejaga buku, kali aja ada yang mo pinjam atau mo ngembalikan buku perpustakaan rohis.

Sembari jaga ternyata mata Wawan yang udah terkenal dengan sebutan mata elang itu mengawasi gerak-gerik Anggi dengan senyum yang begitu mempesona yang sedang asik bercerita didepan ruang Rohis yang kebetulan emang jadi satu dengan Musholla itu. Anggi mungkin gak nyadar kalo dia lagi diawasi sama cowok keren Ketua Rohis SMU Biru itu.

“Anggi-Anggi, kenapa aku gak berani ngungkapin isi hati ini sama kamu ya Nggi????” lamunan Wawan seolah gak percaya akan nasib yang dialaminya.

“Nha!!!!, mikirin siapa hayooo??!!!!” sapa Paras secara tiba-tiba yang bikin Wawan terperanjat dari duduknya.

” Salam dulu kek, jangan main sentak donk, kayak gak pernah ikut pengajian aja!!!” Wawan nerocos memprotes perlakuan sohibnya yang paling setia itu.

“Abis ngelamunin Anggi ya ?” Tebak Paras membut Wawan kaget.

“Yeeee siapa yang baru ngelamunin orang, wong kita tadi baru ngelamunin ummat Islam kok pada loyo , eeee dikira ngelamunin orang ” bela Wawan seolah gak mau kalo sohibnya itu ikut terlibat dalam persoalan yang satu ini.

”Ah jangan gitu Wan, aku tau kok kamu suka ama Anggi, kan aku gak sengaja pernah baca buku kamu yang ada coretan-coretan tinta pink nama Anggi pas aku pinjam buku Fisika kemarin” Paras njelasin ke Wawan.

Seketika itu Wawan tak bisa berkutik, soalnya rahasia yang selama ini dia pendam ternyata diketahui oleh Paras sang sohib yang perhatian banget sama dia.

“Eh Ras! Aku percaya kamu bisa nyimpen rahasia ini, soalnya aku belum berani buat ngungkapin cinta ke Anggi, takut nih” minta Wawan seolah agak memaksa.

“Beres Wan, jamin aman deh.” Jawab Paras meyakinkan Wawan.

Akhirnya tak terasa bel masuk pun berbunyi, mereka bergegas kembali meninggalkan Musholla ke kelas masing-masing. Tapi kayaknya ada yang gak beres, soalnya baju belakang Wawan keliatan gak rapi, padahal Wawan terkenal anak yang rapi banget di SMU Biru itu. Akhirnya dia bergegas menuju kamar kecil sebelah utara musholla. Tapi sayang didalam ada orang yang pake. Wawan menunggu beberapa lama, dan akhirnya.

“Klek” bunyi pintu kamar mandi itu terbuka.

Tak lama kemudian muncullah sesosok tubuh yang gak asing lagi bagi Wawan. Ya, Anggi keluar ruangan itu dengan melemparkan senyuman khasnya yang membuat jantung Wawan berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

“Serrrr . Dak Dik Duk .” begitu mungkin suasana jantung Wawan melihat senyum Anggi yang begitu manis.

“Kok belon masuk Wan, kan udah bel .??” Tanya Anggi

“Iy iy iyya, Nggi, Maklum baju belakang keluar nih, takut entar gak keliatan rapi” jawab Wawan agak gerogi.

“Ooo, gitu ya.. Ya udah duluan ya Asalamualaikum” Pamit Anggi smbil melempar senyum mautnya kembali kepada Wawan yang membuat Wawan jadi salah tingkah lagi.

“Waalaikum salam” sahut Wawan.

***
Hampir dua bulan Wawan memendam rasa ke Anggi, tapi gak berani mengungkapkannya. Dia hanya bisa curhat ke Paras kalo dia itu cinta sama Anggi, tapi gak berani ngungkapin ke Anggi.

Tanggal 31 Maret 2010, Wawan mengetahui bahwa hari itu adalah hari spesial bagi Anggi, ya hari Ulang tahun yang ke 17, Wawan berpikir keras buat ngungkapin rasa cintanya secara non verbal. Yaitu dengan hadiah di hari spesial itu. Wawan meminta pendapat ke Paras, soal hadiah apa yang cocok diberikan ke Anggi buat hadiah Ultahnya.

“mo kasih apa ya Ras????” tanya wawan minta pendapat Paras.

”kasih bunga aja, biar romantis!” jawab Paras.

“gak ah, takut gak ada manfaatnya, gimana kalo aku kasih Khimar?” Wawan minta pendapat ke Paras.

“wah, hebat kamu Wan, bagus banget tuh ” Paras mendukung.

“Tapi Pas” Wawan Menyela.

“Aku gak berani ngasihin ke dia, tolongin aku ya, kan kamu temen setia aku! Ya ras ya Please!!!!!!” Rengek Wawan seolah memaksa paras tuk menurutinya.

“Wah kok aku sih, napa gak kamu sendiri aja yang nyampein, kan yang suka sama dia kamu, kok suruh aku sih?” ledek Paras.

“Iya deh Wan, jangan kuatir pasti aku sampein ke dia”Jawaban Paras melegakan.

***
Pagi yang cerah dia awal bulan April. Seperti biasa anak-anak pada berkerumun ke gank-nya masing-masing. Termasuk Wawan yang udah ngetem sama Paras di taman Sekolah depan kelas 2 B. Tema pembicaraannya apa lagi kalo bukan masalah Anggi. Tapi pembicaraan mereka terhenti sejenak karena ada sesosok tubuh berjalan dihadapan mereka. Anggi berjalan dengan kalem menuju kelas 2 A.

“Subhanallah, Ras itu khimar yang kemarin aku kasih ke dia ” ucap Wawan seolah enggak percaya akan apa yang dia saksikan.

“Haa.. yang bener Wan ?” tanya Paras.

“Iya, bener itu yang aku kasih ke Anggi, Subhanallah… tau berterimakasih banget dia..”gumam Wawan

“Wah beruntung kamu Wan, berarti hadiah kamu special buat dia” ledek paras.

Kedua sahabat itu masih enggak percaya akan perlakuan Anggi pada pagi itu yang membuat Wawan seperti diatas angin.

***
Bel istirahatpun tiba. Seperti biasa gank rohis itu pergi ke musholla tuk ngejalanin sholet duha. Tapi entah mengapa Anggi udah duluan sebelum bel tadi ke musholla. Entah apa yang dilakukan Anggi di musholla itu, tapi perlakuannya gak begitu digubris sama anak-anak lainnya. Mereka sholat seperti biasanya. Dan sudah menjadi kebiasaan juga sehabis sholat ya 5 menitan-lah anak-anak pada istirahat sambil nongkrong di ruang rohis disebelah selatan musholla.

Pas mo balik ke kelas karena udah bel. Wawan menemukan sepucuk surat yangditujukan kepadanya dilaci yang biasa tuk nyimpan pecinya kalau mau masuk kelas. Ya sebuah surat dengan sampul biru muda dengan tulisan yang udah gak asing lagi buat Wawan.

“Hah surat dari Anggi????” batin wawan seolah gak percaya.

“Eh Wan surat dari siap tuh?” tanya Paras pingin tau.

“Dari Anggi “jawab Wawan..

“Kok jadi berdebar gini ya Ras “sahut Wawan sedikit gerogi.

“Udah lah Wan, jangan terlalu dipikirin berat-berat. Lagian udah bel tuh” nasehat paras sambil mengajak sohibnya itu masuk ke kelas.

Tapi langkah mereka berdua gak semulus yang di duga. Mereka dihadang oleh sesosok tubuh yang kini sedang mengisi renung hati Wawan. Anggi menghadang perjalanan mereka. Biasa sebelum dia mengucapin kata-kata, Anggi menebarkan senyum yang begitu mempesona.

“Wah, makashi banget ya Wan, enggak ada hadiah sebagus yang udah Wawan sampein ke Anggi, sekali lagi makasih ya .” Kata Anggi sembari meneber senyum kembali membuat hati Wawan berontak.

“iya deh Nggi, selamat Ulang tahun ya ” jawan Wawan

“makasih lho Eh udah dibaca Surat Anggi?” tanya Anggi.

“Belon, mungkin nanti siang aja ba’da sholat Duhur” jawab Wawan.

“Iya deh. Anggi tunggu ta jawabannya ” Jawab Anggi.

“Insya Allah, Nggi” Jawaban Wawan meyakinkan.

Setelah Anggi pergi, paras yang dari tadi cuman dijadiin obat nyamuk protes.

“Busyet kamu Wan, kalo udah ketemu sama yang cocok gak inget sama temen lagi” protes Paras.

“Sory deh Ras, habis mo gimana lagi? “jawab Wawan.

Kedua sahabat itu akhirnya lenyap dilorong laboratorium biologi yang mereka lewati.

Selama pelajaran berlangsung, bukannya pelajaran yang dipikirin Wawan, tapi dia coba ngebayangin berbagai kemungkinan isi surat Anggi siang itu. Hampir 3 jam penuh dia menciummi surat bersampul biru muda itu dengan penuh perasaan. 3 jam bagi Wawan amatlah lama dan membosankan. Tanpa sadar ia kembali terhanyud dalam lamunan yang memang membuat bibirnya senyam-senyum sendiri. Walaupun begitu dia masih bisa nyembunyiin ketergelisahannya itu, jadi gak sempat jadi perhatian Pak Pardjo yang sedang mengajar Momen Gaya.

***
Dan bel yang begitu indah pun terdengan dengan diiringi jerat jerit anak-anak SMU Biru itu. Rasa lega dan bimbang menyelimuti perasaan Wawan yang udah dari tadi gak bisa konsentrasi sama pelajaran dari guru-guru yang mengajar. Ia bergegas menunaikan sholat dhuhur dengan berjamaah di musholla sekolah.

Setelah cukup berdoa dan berdzikir Wawan segera bergegas menuju ruangan Rohis yang menang udah mulai rame dengan anak-anak kelas 1 dan 2 yang sedang asyik membaca buku perpustakaan. Tanpa diketahui oleh mereka, Wawan berhasil mengambil sepucuk surat yang emang udah menjadikannya gak bisa berfikir jernih.

Ya surat dari Anggi. Ia segera menuju gudang musholla yang emang dia pegang kuncinya dan segera membaca surat itu. Tak ketinggalan Paras yang udah dari tadi menyertai Wawan ikut menyimaknya.

“Assalamualaikum Wr. Wb.
Untuk Akhi Wawan yang Dirohmati Allah.

Sebelumnya Anggi mengucapkan terima kasih banyak kepada Akhi Wawan yang udah memberikan perhatian lebih kepada Anggi. Anggi merasa bahwa hidup ini adalah perjuangan. Siapa yang mau berjuang dialah yang akan mendapatkan sesuatu yang dia impikan. Akhi Wawan, Anggi sebenarnya mengerti bahwa akhi Wawan menyukai Anggi. Perlu diketahui saja sebenarnya Anggi juga gak bisa menmbohongi hati Anggi sendiri bahwa Anggi juga menyukai Wawan, emang suka tak harus memiliki. Mungkin Akhi Wawan bisa faham maksud hati Anggi. Teruslah berjuang tuk mengapai cinta ..

Wassalamualaikum Wr Wb
Anggi”

Itulah surat yang diberikan Anggi kepada Wawan. Singkat, Padat dan penuh dengan makna.

“Wah gimana nih Ras???” tanya Wawan seolah gak percaya.

” Lho kok gimana sih, nha ini kan yang sebenarnya kamu inginkan .” Ledek Paras.

“Serius atuh!!!, Wawan butuh pendapat nih .” Rengek Wawan.

” kalo aku sih ya ungkapin aja sama dia .” Jawab Paras.

Diskusi singkat itu akhirnya membuahkan keputusan yang bulat. Sebelum bel masuk wawan akan ngungkapin isi hatinya sama Anggi. Memang hari itu keberuntungan wawan. Belum juga dia nyari Anggi, eee Anggi-nya udah nongol di depan musholla. Kontan aja wajah Wawan jadi berseri-seri dan akhirnya dia mengejar tuk mendapatkan kepastian hidup .

“Nggi! Aku pingin ngomong nih .”

“Apa Wan yang tadi ya ..?” jawab Anggi .

“Iya ” jawab wawan.

“Gimana Nggi’ Sumpah deh aku cinta mati sama kamu bener-bener, terimalah cintaku ini ya Nggi!”. Rengek wawan.

“Wah gimana ya, benarnya Anggi belum berani buat mengatakannya, tapi apa boleh buat anggi juga cinta kok ama wawan”. ungkapan yang begitu indah terdenganr dari mulut Anggi seolah-olah telah mampu menghancurkan kebekuan hati Wawan selama ini.

Seiring dengan waktu dan seiring dengan perkembangan situasi kedua pasangan serasi Rohis SMU Biru itu semakin dekat aja. Walaupun mereka melakukan aktifitas pacaran tapi tetap gak diketahui sama teman-temannya, karena mereka adalah anak-anak Rohis. Wawan adalah ketua dan Anggi adalah Bendahara. Jadi ketika kedua pasangan itu bercakap-cakap dianggap teman-temannya adalah koordinasi kegiatan.

***
Genap sudah 4 bulan mereka berpacaran tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali Paras. Udah jadi kebiasaan ketika cawu 3 Rohis SMU Biru mengadakan sarasehan mengenai pelajar dan masalah lain yang menyangkut langsung dalam dunia pelajar.

“Gimana Fik, udah kelar bigraundnya?” tanya Wawan dalam sebuah rapat pengecekan akhir.

“udah kok Wan, tapi ada yang belon beres nih mengenai moderator buat acara besok..”

“jadi gimana, udah ada belon? kalo belon ada Wawan juga bisa kok jadi moderator” tawaran Wawan, serius

“bener Wan.. tapi apa gak aneh entar ?” Tanggapan Taufik

“Lho kok aneh sih.. emang kalo udah jadi ketua gak boleh jadi moderator ya? enak aja.. kalo gitu mendingan gak usah jadi ketua yeeee” Sahut Wawan penuh semangat.

Akhirnya acara sarasehanpun diadakan. Dengan dihadiri oleh hampir seratus orang siswa SMU Biru dan beberapa guru yang memang diundang oleh pihak panitia. Tema-nya pun gak tanggung-tanggung. “Peran pelajar dalam mengubah dunia”. Walaupun tema-nya agak berat tepi karena yang membawakan sarasehan itu adalah ustadz yang agak gaul jadi para peserta bisa menangkap dengan baik. Bahkan karena merasa cocok, beberapa siswa menginginkan ada follow up dari kegiatan itu. Dan Rohispun mensepakati.

Setelah disepakati oleh Mas Ardiansyah ustadz gaul yang belakangan mulai naik daun namanya itu akhirnya setiap pekannya akan mengisi kajian Rohis. Hari Rabu siang jam 14.00 WIB.

***
Seiring dengan berjalannya pengajian yang mulai membahas tema-tema cinta dan pacaran. Sedikit banyak Wawan yang emang lagiada “main’ dengan bendahara Rohis ini mengalami kegelisahan batin. Antara mencintai nya (Anggi) dengan mencintai-Nya. Tetapi seiring dengan waktu akhirnya pemahaman mereka telah menuntun kepada jalan yang benar.

“Akhirnya merekapun kemudian saling menjauh walaupun sebenarnya dekat. Dan saling mendekat walaupun mereka jauh. Akhirnya mereka lebih mencintai Allah dari pada mencintai sesama makhluknya.”

Bila Cinta harus Memilih maka kan ku pilih untuk mencintai-Nya.

*******
Sebuah Cerpen Cinta Islami Romantis Bila Cinta Harus Memilih yang bisa jadi teladan dan juga pemikiran buat kita, kadang cinta memang harus memilih. Karna cinta tak harus memiliki.

CINTA DALAM SEPOTONG KANGKUNG

Malam tanpa bintang. Jangkrik berderik-derik, saling bercengkerama. Angin mati dan pepohonan tegak kaku. Saya menatap dalam-dalam tumis kangkung yang tak habis saya lahap. Potongan-potongan kangkung yang ornamental, tercelup dalam kolam kuah yang eksotik berwarna hijau segar, memberi nuansa tersendiri dalam alam pikiran saya. Kangkung itu punya wibawa magis yang membuat saya seakan terlontar pada pengalaman-pengalaman masa silam. Saya membantu upaya 'pengumpulan' ingatan itu, dengan melirik istri saya, Mira, yang penuh cinta meneteki anak kami, Fatimah. Ia duduk
membelakangi saya dan menikmati fitrah keibuannya, secara bersahaja. Dari mulutnya mengalun lagu ninabobo, merdu melenakan. Dengkur halus Fatimah terdengar syahdu. Saya tersenyum sembari melangkah pelan ke arah jendela. Mira tetap cantik, seperti dulu, saya membatin. Saya merasa beruntung memiliki istri seperti dia: anggun dan mempesona. Saya kemudian menyulut rokok dan menghirupnya penuh perasaan. Rimbun asapnya mengepul-ngepul. Maka kenangan pun berlari ke belakang, pada suatu sore tiga tahun yang silam.***
Waktu itu saya masih ingat betul, Bang Heri, redaktur hiburan tabloid 'Gossip Kita' tempat saya bekerja, memanggil.
"Firman!" serunya dari pojok kanan ruang redaksi.
Saya menghentikan ketikan berita dan menyahut. "Ada apa, Bang?" tanya saya lalu berdiri, dan berjalan ke arahnya.
"Saya punya tugas untuk kamu," ujar Bang Heri seraya mengangsurkan setumpuk berkas kepada saya. Saya meraihnya, lalu menatap Bang Heri.
"Dokumen tadi adalah data pendukung tugas wawancara kamu dengan Mira Saraswati, bintang film 'Cintailah Aku Seutuhnya' yang diperkirakan oleh banyak kalangan bakal meraih piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik tahun ini. Kamu wawancarai dia, dan korek informasi serta tanggapannya tentang nominasi yang diperolehnya termasuk latar belakang keluarganya. Selengkap-lengkapnya. Lekas berangkat dan ingat, lusa sore laporan hasil wawancaramu sudah harus diterima. Jangan sampai terlambat!" tegas Bang Heri.
Saya hanya mengangguk mengiyakan. Bang Heri berlalu tanpa memberi kesempatan saya untuk bertanya lebih jauh. Apa boleh buat, sebagai wartawan muda, saya harus selalu siap mengerjakan tugas-tugas di lapangan.
Tidak berapa lama, saya telah meluncur ke rumah Mira dengan mengendarai motor butut pinjaman Joko, pegawai bagian iklan. Sepanjang jalan, wajah Mira Saraswati terbayang-bayang. Wajah itu memang cukup populer, sebab selain bintang iklan tivi dan artis, salah satu posenya menghiasi kalender yang menggantung di kamar kos saya. Ia memang begitu cantik dan menawan. Kariernya di usia yang masih cukup belia ini memang melonjak drastis. Dalam waktu singkat, ia telah meraih popularitas yang mencengangkan, sesaat setelah membintangi film Box Office-nya 'Cinta dan Dusta'. Walau terus terang, saya kurang begitu tertarik terhadap film-film buatan negeri sendiri lantaran mutu akting pemainnya yang jelek dan logika berceritanya cenderung mengada-ada, saya cukup salut pada cara Mira melakoni karakter yang diperaninya. Wajar dan begitu alami. Sewaktu menonton film pertama Mira tersebut, saya sudah menduga ia bakal menjadi bintang film terkenal. Dan tampaknya, dugaan saya itu tak terlalu melenceng jauh. Terbukti, ia masuk nominasi piala Citra, setara dengan bintang-bintang film lainnya yang lebih dulu tampil di dunia layar perak
***
Tanpa terasa, saya telah tiba di tempat tujuan. Saya mencocokkan alamat rumah Mira dengan data alamat rumah yang diberikan Bang Heri. Ternyata pas. Saya lantas memencet bel yang menempel pada pilar pagar tembok. Tak berapa lama, muncul seorang lelaki muda tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Tampaknya seorang pembantu rumah atau mungkin tukang kebun. Pakaian yang dikenakannya cukup memberi kesan.
"Selamat sore. Apa betul ini rumah Mira Saraswati?" Saya bertanya.
"Benar, apa Mas mau ketemu dengan Mbak Mira?" jawab lelaki itu dari balik jeruji pagar.
"Ya, saya wartawan dari tabloid 'Gossip Kita'. Tolong sampaikan pada Mbak Mira, saya mau wawancara. Kemarin kami sudah janji," kata saya mengungkapkan maksud kedatangan. Lelaki itu manggut-manggut seraya membuka pintu lalu mempersilakan saya masuk.
Rumah Mira betul-betul mentereng. Megah dan mewah. Taman bunga yang asri terawat rapi, tampak segar dan menyejukkan. Rumah itu bertingkat dua dan bercat putih. Saya diminta duduk di serambi sementara lelaki muda tadi masuk memanggil Mira. Sekitar sepuluh menit kemudian, sosok Mira Saraswati muncul di depan saya. Ia memakai kaus oblong putih bertuliskan 'Public Enemy' dan jeans biru. Rambutnya yang sebahu terlihat basah, kelihatannya habis keramas. Saya terpukau sejenak. Mira memang sangat menawan. Belahan dagu dan dekik pipinya menambah manis penampilannya. Saya tiba-tiba merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Anda wartawan?" tanya Mira mengejutkan keterpesonaan saya. Saya gugup dan menelan ludah. Saya lalu berdiri dan mengulurkan tangan.
"Benar. Kenalkan, saya Firman, wartawan tabloid 'Gossip Kita'." Saya memperkenalkan diri. Mira menyambut uluran tangan saya dengan hangat dan mempersilakan saya duduk kembali. Saya kemudian mengutarakan maksud kedatangan saya sekaligus memohon maaf atas kelancangan saya atas kebohongan: 'Sudah janjian kemarin'.
Mira tersenyum. "Tak apa-apa, itu sudah lagu lama wartawan, saya sudah hapal itu. Nah, apa yang Anda mau tanyakan?" tanyanya seraya memperbaiki letak duduknya. Saya lantas mempersiapkan daftar pertanyaan yang telah diberikan Bang Heri pada saya.
"Anda rupanya bukan wartawan profesional," Mira mencibir.
"Kenapa?" Saya penasaran.
"Itu, Anda bawa daftar pertanyaan segala. Wartawan profesional tidak memerlukan itu bukan?" kata Mira mengajukan alasan. Ia tersenyum-senyum penuh kemenangan. Saya agak tersipu tapi kali ini sedikit tersinggung.
"Saya memang masih amatir, Nona Mira, tapi bukan berarti saya tidak dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang profesional, daftar pertanyaan ini sekedar menjadi panduan saya agar arah wawancara kita lebih jelas," kata saya membela diri dengan nada tajam.
Mira tertawa kecil. Saya merutuk dalam hati.
"Oke, saya minta maaf kalau Anda kurang berkenan. Saya tak punya maksud apa-apa di balik pernyataan saya tadi. Sekedar bergurau, kok. Saya cuma ingin berusaha membuat suasana lebih santai. Anda kelihatannya sangat tegang dan gugup Oh, ya, kita ber-'saya-kamu' sajalah. Panggil saja saya Mira," kata Mira enteng. Tanpa beban.
Saya menghela napas panjang. Kejengkelan masih tersisa. Belum apa-apa ia sudah meremehkan saya. Tapi dalam hati, saya mengakui kecerdikannya menguasai keadaan.
Saya kemudian tidak memperdulikan 'insiden' tadi, pertanyaan-pertanyaan saya pun mengalir lancar. Yang mengagumkan, Mira mampu menjawabnya dengan baik dan sistematis. Omongannya padat dan bernas. Hal ini menunjukkan bahwa selain cantik Mira memiliki otak yang cukup encer.
Menjelang akhir wawancara, Mira melontarkan pujian.
"Ternyata, pertanyaan-pertanyaan kamu cukup profesional juga. Bahkan lain dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan yang sudah mewawancarai saya sebelumnya. Kamu lebih jeli melihat sosok Mira sebagai pribadi bukan sosok Mira sebagai artis film. Saya suka itu," katanya tulus.
"Kamu juga, Mira. Jawaban-jawaban yang kamu berikan menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Begitu cerdas dan jujur," balas saya memujinya. Kali ini Mira yang tersipu. Pipinya memerah. Lagi-lagi saya dibuat terpukau.
"Kapan-kapan kita jumpa kembali. Hasil wawancara ini akan saya berikan pada Mira. Terima kasih atas kesediaannya. Permisi." Saya beranjak pamit.
Mira tersenyum manis. Ia kemudian mengantar saya sampai ke pintu gerbang depan rumahnya. Kami berjabat tangan. Sorot mata kami bicara. Di ufuk barat langit merah jingga. Perlahan berubah menjadi merah jambu.
***
Kalau kemudian saya dan Mira jadi sering bertemu. Semata-mata karena kenekatan saya. Saya betul-betul terjerat oleh panah asmara Mira. Sudah menjadi watak saya untuk meraih apa yang saya inginkan. Sengotot mungkin. Setelah mengantarkan hasil wawancaranya yang dimuat di tabloid 'Gossip Kita' dan Mira menyatakan kepuasannya, saya merasa dapat peluang emas. Dan tanpa ampun, kunjungan demi kunjungan pun saya lakukan. Saya tak mempedulikan lagi status sosial kami yang berbeda: ia artis, kaya dan public figure sementara saya hanya wartawan miskin yang kamar kost saja sering nunggak. Mira pun menampilkan sikap tidak keberatan bahkan sangat senang. Saya berusaha tampil apa adanya dan Mira menerima semua itu dengan penuh pengertian. Tanpa sungkan-sungkan, Mira memilih duduk dibonceng nonton ke bioskop atau makan di warung pinggir jalan diatas motor butut pinjaman dari Joko atau Mas Yono tetangga saya, ketimbang membawa mobil BMW pribadinya. Sebuah sikap bersahaja yang membuat saya makin kagum pada sosok Mira.
Sebagaimana biasa bila artis agak bertingkah maka tak ayal lagi ia dijadikan bulan-bulanan gossip. Hal ini juga menimpa diri Mira. Dalam beberapa kejap sejumlah 'koran kuning' mulai memuat berita hubungan kami secara vulgar dan blak-blakan. Mira tak ambil pusing, saya pun demikian. Meski belakangan ini beberapa orang rekan wartawan memandang iri pada keberuntungan yang saya peroleh. Untuk sementara saya dan Mira tak memperhitungkan masalah apapun. Semua lancar dan beres. Bahkan Bang Heri dan Pak Sofyan, pemimpin redaksi 'Gossip Kita', memberikan dukungan penuh pada gebrakan monumental saya ini.
"Maju terus, Fir. Kapan lagi kita-kita ini punya ipar artis. Siapa tahu malah oplah tabloid kita naik," demikian kata Pak Sofyan memberi semangat. Saya hanya menyambut gurauan tadi dengan senyum penuh arti.
Sampai malam itu.
Saya baru saja melangkah masuk ke rumah Mira, ketika percakapan itu terdengar.
"Wartawan itu profesi tanpa masa depan. Apa yang kamu harap dari dia?" Terdengar suara geledek Pak Sasmita membahana. Saya terpaku di tempat saya berdiri. Bulu kuduk saya meremang. Saya diselimuti perasaan kurang enak.
"Firman baik, Pak. Mandiri dan siap bertanggung jawab. Dia punya keteguhan pribadi dan kematangan sikap yang sangat saya kagumi, Pak. Firman bukan lelaki yang bisa dianggap rendah," bela Mira sengit. Di luar, saya tersenyum getir. Mira sangat membanggakan saya.
"Persetan! Pokoknya, Bapak tak mau lihat kamu bergaul lagi dengan dia, si wartawan kere itu. Titik!" tegas Ayah Mira. Terdengar langkah-langkah kakinya meninggalkan Mira yang isak tangisnya mulai terdengar
Saya menghela nafas panjang. Ini sebuah resiko, dan saya sudah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Saya telah siap menghadapinya seperih dan sepahit apapun. Namun meskipun begitu, saya cukup terpukul atas kejadian tadi. Saya memutuskan untuk pulang, agar persoalan tersebut tidak menjadi makin runyam. Sepanjang perjalanan, saya terus memikirkan kelanjutan hubungan saya dengan Mira. Akhir yang tragis , saya membatin. Nelangsa.
***
Sejak prahara tersebut muncul, saya tak pernah lagi berusaha menemui Mira Untuk kasus ini, saya mesti melakukan langkah-langkah yang lebih realistis. Saya tahu posisi saya dan kesulitan Mira.
Hingga suatu ketika, saat saya tengah asyik melahap tumis kangkung di kamar kost, Mira datang. Matanya menyala.
"Kenapa bang Firman tidak pernah datang menemui saya?" semprotnya langsung. Saya meletakkan sendok di mangkuk, lalu berdiri dan menatap ke arahnya.
"Ayahmu, Mira. Saya dengar semua percakapan kamu dengan ayahmu mengenai saya. Saya tak ingin hanya karena saya dekat dengan kamu, hubungan keluarga kalian retak. Saya tahu bagaimana saya harus menempatkan diri. Saya bukan apa-apa, Mira. Hanya wartawan miskin. Tak lebih. Saya sadar, terdapat banyak perbedaan antara kita yang tidak dapat dipertemukan." Saya berusaha menjelaskan dengan tenang.
Mata Mira terlihat mulai memerah. Ia menangis. Saya tak tahan menyaksikannya. Saya lantas mengalihkan perhatian pada langit-langit kamar. Ada cicak bercengkerama di sana.
"Bang Firman terlalu picik memandang masalah ini. Saya tahu, apa yang harus saya lakukan. Saya tahu apa yang terbaik untuk saya. Saya....." Mira tak menyelesaikan ucapannya. Tangisnya meledak. Saya menggigit bibir.
"Mira, dengar. Apa yang saya lakukan semata-mata demi kepentinganmu, kebaikanmu dan karir cemerlangmu di masa datang. Hubungan kita selama ini, boleh jadi, menyebabkan kamu tak leluasa mengembangkan apa yang telah kamu raih selama ini. Kamu artis penuh harapan Mira." Saya raih dan meremas tangannya. Saya merasa tenggorokan saya tercekat. Ada keharuan yang membuncah.
Mira menengadah. Matanya yang sembab tajam menghunjam. Saya balas memandangnya. Dengan lembut, saya lalu menyeka butir-butir airmata yang mengalir di pipinya. Dalam diam mengalir sesuatu yang tak dapat dijelaskan. Ia melepas genggaman tangan saya dan berjalan ke arah meja.
"Saya lapar. Masih punya tumis kangkung?" tanya Mira memecah keinginan. Suaranya terdengar putus asa. Saya lalu menyiapkan segala sesuatunya di meja. Mira memang biasa makan di tempat saya. Ia sangat menyukai tumis kangkung buatan saya.
"Lezat dan eksotik," katanya suatu ketika. Saat itu saya cuma meringis, sebab terus terang hanya menu itu yang dapat saya buat selain menanak nasi dan telur goreng.
Saya menyaksikan Mira dengan lahap menghabiskan hidangan saya yang sangat sederhana. Nasi plus tumis kangkung. Ia terlihat sangat menderita. Wajahnya yang cantik seperti dibaluri kabut. Pekat dan suram. Saya trenyuh.
Mira mengakhiri prosesi makannya dengan meneguk segelas air putih. Saat saya beranjak untuk membenahi. Ia menyentuh lengan saya.
"Sudah, biar saya, Bang," katanya. Saya mengangguk. Dengan keanggunan yang sangat alami, ia membenahi meja. Saya terpukau menyaksikannya.
"Tumis kangkung buatanmu tadi betul-betul enak, Bang Firman," puji Mira tulus yang berdiri membelakangi saya. Ada nada getir dalam kata-katanya.
"Itu cuma soal kebiasaan dan kemampuan meramu bumbu," jawab saya enteng seraya menyalakan rokok.
Mira tiba-tiba berbalik dan menatap saya lekat-lekat. Saya terkejut.
"Jadi Bang Firman masih mempersoalkan perbedaan-perbedaan, sementara tumis kangkung yang seenak ini dibuat hanya dengan kebiasaan dan keandalan meramu? Perbedaan-perbedaan dapat dipertemukan dengan membiasakan dan meracik keberagaman," tutur Mira jernih.
Saya mengerutkan kening.
"Banyak hal yang perlu kita mengerti sebelum kita menyatakan untuk berbuat. Bang Firman perlu banyak belajar dari tumis kangkung itu," lanjut Mira sembari tersenyum. Ia lalu berbalik dan melanjutkan pekerjaannya, mencuci piring.
Saya tercenung. Mira benar dan itu membuat saya merasa makin tak ingin kehilangan dia. Sikap saya keliru selama ini. Saya mematikan rokok yang belum sempat saya isap di asbak, lalu berjalan kearahnya.
"Mira," panggil saya lirih.
Ia menoleh memandang saya. Parasnya yang jelita seperti bercahaya.
"Saya cinta kamu Mira Saraswati!"
"Saya juga cinta kamu Firman Agus," sahut Mira malu-malu. Ia menunduk.
Saya lalu memegang bahunya. Mengalirkan keyakinan.
"Kamu mau bersamaku membangun kebiasaan dan meracik keberagaman?"
Mira mengangguk kencang-kencang.
"Kamu mau membuat tumis kangkung bersamaku, meramunya secara dashyat dan menikmatinya sepanjang hidup?"
Lagi-lagi Mira mengangguk kencang-kencang.
Kami lalu tertawa bersama.
Di luar, angin bersorak dn pohon akasia bertempik kegirangan.
***
Saya membuyarkan lamunan. Kini, saya dan Mira telah bersama-sama selama tiga tahun 'membangun kebiasaan dan meracik keberagaman' itu, tanpa ada perbedaan-perbedaan. Saya pun telah meninggalkan profesi sebagai wartawan, dan Mira telah menjadi istri yang setia mendampingi saya sebagai pemilik restoran 'Tumis Kangkung' paling terkemuka dan paling dashyat di negeri ini

motor

rubrik motor lainnya »

Mutiara kata

Mutiara kata lainnya »
 

© Copyright Pucanglaban News 2010 -2011 | Edit by Tim Pucanglaban News | Published by Pucanglaban News .