Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti berkata "Aturannya secara internasional begitu. Rusia harus ikuti aturan itu," saat menanggapi kengototan Pemerintah Indonesia untuk memeriksa kotak hitam Sukhoi Superjet 100 RA-36801yang harus diperiksa di Indonesia, bukan di Rusia, negara asal pesawat yang mengalami kecelakaan itu.
Setelah mengikuti kunjungan delegasi Rusia di kantor Wakil Presiden Senin 14 Mei 2012 kemarin, ia menjelaskan, investigasi dan pemeriksaan kotak hitam dilakukan di negara tempat kecelakaan. Sebelumnya, kotak hitam memang diperiksa di negara produsen pesawat, karena kala itu Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) Kementerian Perhubungan belum memiliki alat untuk membacanya. "Sekarang sudah punya, sejak dua tahun lalu."
Menurut Ketua Subkomite Udara KNKT Masruri, penyelidikan black box Sukhoi Superjet akan dilakukan di Laboratorium KNKT, di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. "Tim dari Rusia hanya akan dimintai keterangan untuk beberapa hal teknis."
Atase Pers Kedutaan Besar Rusia, Dmitry A. Solodov, membantah tudingan Rusia ingin menguasai pemeriksaan kotak hitam. "Itu informasi dari sumber yang tak kami percayai," ujarnya Senin 14 Mei 2012 malam. "Kami masih berkonsentrasi pada pencarian kotak hitam."
Yopie Hidayat, juru bicara Wakil Presiden Boediono, pun memastikan Rusia belum meminta memeriksa black box Sukhoi yang menabrak lereng Gunung Salak di Sukabumi, Jawa Barat, pada Rabu siang 9 Mei 2012 pekan lalu. Bahkan, dalam pertemuan, dipastikan kerja tiga tim Rusia di bawah kendali Indonesia, yakni Badan SAR Nasional, Kepolisian RI, dan KNKT.
Pertemuan itu merupakan tindak lanjut pembicaraan via telepon Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Kamis malam 10 Mei 2012 lalu. Delegasi Rusia terdiri atas empat orang, yang dipimpin oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia, H.E. Alexander Ivanov. Adapun Boediono didampingi, antara lain, oleh Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.
Hingga Senin 14 Mei 2012 kemarin, kotak hitam belum ditemukan oleh tim SAR. Namun tim telah menemukan dan mengangkat pemancar sinyal darurat (emergency locator transmitter/ELT) dalam keadaan rusak pada Minggu malam 13 Mei 2012 lalu.
"Berdasarkan penyelidikan, pihak Sukhoi mengatakan ELT ada kemungkinan rusak akibat hantaman keras yang diterima pesawat," kata konsultan bidang pertahanan dan pengembangan bisnis PT Trimarga Rekatama, Sunaryo. Dengan efek hantaman yang begitu keras, ELT bisa saja mengalami malfungsi atau terlepas dari tempatnya.
Sukhoi Superjet 100, seperti juga pesawat lainnya, memiliki dua pemancar sinyal keadaan darurat: ELT serta emergency locator beacon aircraft, dan keduanya tidak berfungsi saat kecelakaan itu. "Pihak Rusia sendiri masih bingung kenapa bisa rusak keduanya," ujar Sunaryo.
Tim SAR menemukan ELT di lokasi yang jauh dari titik kejadian. "Sekitar 500 meter dari helipad dan turun lagi 600 meter. Karena sulitnya medan, membawa ke heli saja (butuh) berapa jam," kata Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Daryatmo, di Posko Pasir Pogor, Cijeruk, Kabupaten Bogor.
Ketua KNKT Tatang Kurniadi menegaskan, semua alat yang ditemukan merupakan alat komunikasi. Salah satunya memang berwarna oranye, seperti black box. "Antara lain ada terminal komunikasi dan alat sinyal. Jadi ini salah satu ELT," katanya. Dengan ditemukannya alat komunikasi tersebut, akan membantu penyelidikan penyebab kecelakaan.
Berdasarkan pengalaman, penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat membutuhkan waktu yang panjang. Seperti pada kasus Adam Air KI-574 yang jatuh di perairan Selat Sulawesi. Pesawat Boeing 747-400 itu hilang dalam rute penerbangan Surabaya-Manado pada 1 Januari 2007. Sebanyak 96 penumpang dan enam awak pesawat tewas.
Kotak hitam Adam Air baru ditemukan pada 24 Januari 2007, di kedalaman 2.000 meter perairan Majene, Sulawesi Barat. Karena sulitnya medan, pengangkatannya menggunakan robot pada 27 Agustus 2007. Kotak hitam itu lalu dibuka di National Transportation Safety Board, di Washington, DC, Amerika Serikat.
Selesai dibaca pada 10 September 2007, tapi hasilnya tidak bisa disampaikan kepada publik. "Sesuai dengan ketentuan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) Annex 13, hasilnya hanya untuk kepentingan investigasi," kata Tatang ketika itu.
dikutip dari: tempo.co
pucanglaban.com informatif, kompetitif dan kreatif bersama berbagi ilmu dan pengetahuan.
Showing posts with label Gunung salak. Show all posts
Showing posts with label Gunung salak. Show all posts
14:38
Rp1,25 M per orang untuk korban sukhoi di Gunung Salak
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengatakan bahwa Pemerintah mengupayakan ganti rugi korban pesawat Sukhoi Superjet 100 sebesar Rp 1,25 miliar per orang. Angka yang diajukan itu sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011. Namun, "Pihak Sukhoi belum memutuskan, masih menunggu kedatangan tim asuransinya," katanya Selasa 15 Mei 2012 kemarin.
Dalam aturan yang baru ini, jumlah ganti rugi yang dibayarkan lebih besar dibanding regulasi sebelumnya seperti tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1995. Dalam aturan lama itu disebutkan pemerintah hanya mewajibkan besarnya ganti rugi pesawat Superjet 100 minimal Rp 40 juta.
Sebanyak 45 orang diduga tewas dalam kecelakaan pesawat Superjet 100 itu pada Rabu 16 Mei 2012 pekan lalu. Mereka terdiri atas 10 warga negara asing asal Rusia, Amerika Serikat, dan Prancis, serta 35 warga Indonesia. Menurut Herry, produsen pesawat asal Rusia itu belum memutuskan jumlah klaim asuransi yang akan diberikan kepada keluarga korban.
Sejauh ini Sukhoi menjanjikan akan membayar asuransi US$ 50 ribu atau setara dengan Rp 450 juta untuk setiap korban tewas. Konsultan bisnis PT Trimarga Rekatama, Sunaryo, menyatakan akan mendesak Sukhoi agar mau membayar ganti rugi Rp 1,25 miliar sesuai dengan peraturan Menteri Perhubungan. "Kami masih berusaha, semoga bisa lebih dari US$ 50 ribu," katanya Selasa 15 Mei 2012 kemarin.
Sukhoi sudah menunjuk perusahaan asal Singapura, Airclaims, untuk menangani asuransi korban Sukhoi. Semula Airclaims menolak membayar karena penumpang tidak membeli tiket. "Saya akan mengusahakan sekuat mungkin untuk bernegosiasi," kata Sunaryo.
Ganti rugi pesawat Superjet 100 akan dibayarkan setelah proses identifikasi korban rampung. Sunaryo menjanjikan klaim tetap dibayarkan, meski penumpang pesawat nahas itu dinyatakan hilang. Biasanya klaim untuk penumpang yang hilang baru dibayarkan bila dalam waktu dua tahun tidak ditemukan. "Tapi kami akan upayakan agar segera dibayarkan."
dikurip dari: tempo.co
pucanglaban.com informatif, kompetitif dan kreatif bersama berbagi ilmu dan pengetahuan.
Dalam aturan yang baru ini, jumlah ganti rugi yang dibayarkan lebih besar dibanding regulasi sebelumnya seperti tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1995. Dalam aturan lama itu disebutkan pemerintah hanya mewajibkan besarnya ganti rugi pesawat Superjet 100 minimal Rp 40 juta.
Sebanyak 45 orang diduga tewas dalam kecelakaan pesawat Superjet 100 itu pada Rabu 16 Mei 2012 pekan lalu. Mereka terdiri atas 10 warga negara asing asal Rusia, Amerika Serikat, dan Prancis, serta 35 warga Indonesia. Menurut Herry, produsen pesawat asal Rusia itu belum memutuskan jumlah klaim asuransi yang akan diberikan kepada keluarga korban.
Sejauh ini Sukhoi menjanjikan akan membayar asuransi US$ 50 ribu atau setara dengan Rp 450 juta untuk setiap korban tewas. Konsultan bisnis PT Trimarga Rekatama, Sunaryo, menyatakan akan mendesak Sukhoi agar mau membayar ganti rugi Rp 1,25 miliar sesuai dengan peraturan Menteri Perhubungan. "Kami masih berusaha, semoga bisa lebih dari US$ 50 ribu," katanya Selasa 15 Mei 2012 kemarin.
Sukhoi sudah menunjuk perusahaan asal Singapura, Airclaims, untuk menangani asuransi korban Sukhoi. Semula Airclaims menolak membayar karena penumpang tidak membeli tiket. "Saya akan mengusahakan sekuat mungkin untuk bernegosiasi," kata Sunaryo.
Ganti rugi pesawat Superjet 100 akan dibayarkan setelah proses identifikasi korban rampung. Sunaryo menjanjikan klaim tetap dibayarkan, meski penumpang pesawat nahas itu dinyatakan hilang. Biasanya klaim untuk penumpang yang hilang baru dibayarkan bila dalam waktu dua tahun tidak ditemukan. "Tapi kami akan upayakan agar segera dibayarkan."
dikurip dari: tempo.co
pucanglaban.com informatif, kompetitif dan kreatif bersama berbagi ilmu dan pengetahuan.
21:59
Sukhoi Super Jet 100 dan Gunung salak
Gunung salak kuburan pesawat terbang? Boleh dikata Gunung salak yang terletak di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini adalah sebuah gunung kuburan pesawat terbang karena sudah sering kecelakaan pesawat terjadi di gunung ini.
Bahkan banyak orang yang mengaitkan Gunung Salak ini dengan hal-hal mistis, diantaranya karena selimut tebal kabut di Gunung Salak ini yang bagi sebagian orang dianggap misterius.
Namun, secara logika, kabut tebal di Gunung Salak ini memang secara tidak langsung akan mengganggu perjalanan pesawat terbang seperti terjadi pada pesawat buatan Rusia, Sukhoi Superjet (SJJ) 100 yang diduga menabrak tebing gunung ini.
Bagi pegiat alam bebas, karakteristik gunung tersebut terbilang unik dibandingkan gunung-gunung lain di Pulau Jawa. Karakteristiknya menyerupai gunung di Bukit Barisan yang membelah Sumatera.
Gunung Salak juga menelan banyak korban dari kalangan pendaki gunung. Medannya yang ekstrem ditambah hutan yang lebat membuat orang yang kurang memahami alam bebas, tersesat.
Mengutip Wikipedia, hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest).
Bagian bawah kawasan hutan, semula adalah hutan produksi kelolaan Perum Perhutani.
Di antara jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii), rasamala (Altingia excelsa).
Pada beberapa lokasi, terutama arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka bernama Rafflesia rochussenii yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya.
Bukan jalur penerbangan
Lalu, mengapa Gunung Salak disebut sebagai "kuburan" pesawat terbang?
Dari catatan sejumlah media online, di gunung yang masuk ke wilayah Taman Nasional Gunung Salak Halimun ini memang kerap terjadi rangkaian kecelakaan pesawat.
Pada 15 April 2004, pesawat Paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport, jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Tiga orang tewas akibat kecelakaan ini.
20 Juni 2004, pesawat Cessna 185 Skywagon, jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor. Lima orang tewas. Kemudian pada Juni 2008, pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut. Kecelakaan ini menewaskan 18 orang.
30 April 2009, tiga orang tewas setelah kecelakaan terjadi pada pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor.
Selanjutnya yang terakhir ini, pesawat SSJ-100 buatan Rusia berpenumpang 46 orang jatuh pada 9 April 2012.
Sejumlah kalangan keheranan mengapa Sukhoi yang malang ini turun ke ketinggian yang justru di bawah tinggi gunung.
Staf Ahli Menristek Bidang Pertahanan Keamanan Hari Purwanto bahkan menyatakan penerbangan melalui kawasan Gunung Salak seharusnya tidak dilakukan pada ketinggian 6.000 kaki karena tinggi gunung itu sendiri sekitar 2.200 meter. Belum lagi awan tebal selalu meliputi pegunungan itu.
"Biasanya penerbangan dari Halim menuju Pelabuhan Ratu di ketinggian 12.000 kaki dan standar minimum 8.000 kaki, tapi Sukhoi ini terbang dari ketinggian 10.000 kaki, mengapa turun ke 6.000 kaki?" kata Hari Purwanto di Makassar, Kamis.
Pesawat Sukhoi Super Jet 100 buatan Rusia yang sempat hilang kontak saat Joy Flight dari Halim Perdanakusuma ke Pelabuhan Ratu diperkirakan menabrak pinggir tebing Gunung Salak. 45 orang yang menumpangi pesawat ini diperkirakan tewas.
Hari menyebutkan tiga faktor yang mungkin menyebabkan sebuah pesawat jatuh di Gunung Salak. Ketiganya adalah faktor cuaca, faktor kesalahan manusia, dan faktor kelaikan pesawat.
Ia mengingatkan bahwa jalur penerbangan Bandara Halim Perdanakusuma ke Pelabuhan Ratu via Gunung Salak, bukan jalur penerbangan. Pun bukan area aman untuk penerbangan, apalagi bagi pilot yang tidak terlalu mengerti medan di sana.
Pesawat Sukhoi yang telah dipesan penerbangan swasta Indonesia untuk penerbangan komersil itu diakuinya sudah diuji di sejumlah negara lain sebelum diuji di Indonesia, seperti Myanmar atau negara yang pasarnya terbuka bagi pesawat di luar Boeing, Airbus dan lainnya.
Hari mengungkapkan, pada masa lalu, semua pesawat yang akan digunakan di Indonesia harus melalui kajian atau review teknologi dari BPPT. Namun sejak satu dekade ini review itu tidak dilakukan lagi.
Dikutip dari: antara news
pucanglaban.com informatif, kompetitif dan kreatif bersama berbagi ilmu dan pengetahuan.
Bahkan banyak orang yang mengaitkan Gunung Salak ini dengan hal-hal mistis, diantaranya karena selimut tebal kabut di Gunung Salak ini yang bagi sebagian orang dianggap misterius.
Namun, secara logika, kabut tebal di Gunung Salak ini memang secara tidak langsung akan mengganggu perjalanan pesawat terbang seperti terjadi pada pesawat buatan Rusia, Sukhoi Superjet (SJJ) 100 yang diduga menabrak tebing gunung ini.
Bagi pegiat alam bebas, karakteristik gunung tersebut terbilang unik dibandingkan gunung-gunung lain di Pulau Jawa. Karakteristiknya menyerupai gunung di Bukit Barisan yang membelah Sumatera.
Gunung Salak juga menelan banyak korban dari kalangan pendaki gunung. Medannya yang ekstrem ditambah hutan yang lebat membuat orang yang kurang memahami alam bebas, tersesat.
Mengutip Wikipedia, hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest).
Bagian bawah kawasan hutan, semula adalah hutan produksi kelolaan Perum Perhutani.
Di antara jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii), rasamala (Altingia excelsa).
Pada beberapa lokasi, terutama arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka bernama Rafflesia rochussenii yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya.
Bukan jalur penerbangan
Lalu, mengapa Gunung Salak disebut sebagai "kuburan" pesawat terbang?
Dari catatan sejumlah media online, di gunung yang masuk ke wilayah Taman Nasional Gunung Salak Halimun ini memang kerap terjadi rangkaian kecelakaan pesawat.
Pada 15 April 2004, pesawat Paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport, jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Tiga orang tewas akibat kecelakaan ini.
20 Juni 2004, pesawat Cessna 185 Skywagon, jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor. Lima orang tewas. Kemudian pada Juni 2008, pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut. Kecelakaan ini menewaskan 18 orang.
30 April 2009, tiga orang tewas setelah kecelakaan terjadi pada pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor.
Selanjutnya yang terakhir ini, pesawat SSJ-100 buatan Rusia berpenumpang 46 orang jatuh pada 9 April 2012.
Sejumlah kalangan keheranan mengapa Sukhoi yang malang ini turun ke ketinggian yang justru di bawah tinggi gunung.
Staf Ahli Menristek Bidang Pertahanan Keamanan Hari Purwanto bahkan menyatakan penerbangan melalui kawasan Gunung Salak seharusnya tidak dilakukan pada ketinggian 6.000 kaki karena tinggi gunung itu sendiri sekitar 2.200 meter. Belum lagi awan tebal selalu meliputi pegunungan itu.
"Biasanya penerbangan dari Halim menuju Pelabuhan Ratu di ketinggian 12.000 kaki dan standar minimum 8.000 kaki, tapi Sukhoi ini terbang dari ketinggian 10.000 kaki, mengapa turun ke 6.000 kaki?" kata Hari Purwanto di Makassar, Kamis.
Pesawat Sukhoi Super Jet 100 buatan Rusia yang sempat hilang kontak saat Joy Flight dari Halim Perdanakusuma ke Pelabuhan Ratu diperkirakan menabrak pinggir tebing Gunung Salak. 45 orang yang menumpangi pesawat ini diperkirakan tewas.
Hari menyebutkan tiga faktor yang mungkin menyebabkan sebuah pesawat jatuh di Gunung Salak. Ketiganya adalah faktor cuaca, faktor kesalahan manusia, dan faktor kelaikan pesawat.
Ia mengingatkan bahwa jalur penerbangan Bandara Halim Perdanakusuma ke Pelabuhan Ratu via Gunung Salak, bukan jalur penerbangan. Pun bukan area aman untuk penerbangan, apalagi bagi pilot yang tidak terlalu mengerti medan di sana.
Pesawat Sukhoi yang telah dipesan penerbangan swasta Indonesia untuk penerbangan komersil itu diakuinya sudah diuji di sejumlah negara lain sebelum diuji di Indonesia, seperti Myanmar atau negara yang pasarnya terbuka bagi pesawat di luar Boeing, Airbus dan lainnya.
Hari mengungkapkan, pada masa lalu, semua pesawat yang akan digunakan di Indonesia harus melalui kajian atau review teknologi dari BPPT. Namun sejak satu dekade ini review itu tidak dilakukan lagi.
Dikutip dari: antara news
pucanglaban.com informatif, kompetitif dan kreatif bersama berbagi ilmu dan pengetahuan.
21:58
Angkernya Gunung Salak
Gunung Salak dan Rahasia keangkeran serta kemisteriannya sering kita dengar. Banyak kejadian nyawa melayang sampai pada peristiwa Pesawat jatuh di Gunung salak. Bagi masyarakat Sunda yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Gunung Salak memiliki makna tersendiri.
Gunung salak ini diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai tempat bersemayam dan turunnya para batara atau dewa dari kahyangan. Untuk itu, masyarakat Sunda klasik sering menyebut Gunung Salak ini sebagai kabuyutan. Peran gunung sebagai kabuyut dapat dilihat dari cerita-cerita rakyat dan tuturan para pini sepuh.
Oleh masyarakat adat yang tinggal di Desa Giri Jaya, Gunung Salak merupakan kawasan yang penting karena menjadi asal usul daerah dan kehidupan mereka. Gunung Salak juga menyimpan banyak misteri kehidupan, di mana masyarakat meyakini bahwa siapa saja yang dapat menemukan atau mengerti rahasia di dalamnya akan menjadi manusia arif.
Pendapat mereka didasarkan atas tafsiran mengenai asal kata "Salak" yang menjadi nama gunung ini. Menurut masyarakat setempat, nama "Salak" berasal dari "Siloka" dan "Salaka" yang berarti "simbol atau tanda dan juga asal-usul".
Masyarakat adat ini setiap tahunnya sering menggelar acara-acara seremonial tradisi, seperti seren taun, muludan, dan lain-lain. Ritual digelar di Gunung Salak karena gunung ini sangat dihormat oleh masyarakat setempat.
Gunung Salak juga dikenal sebagai destinasi wisata pendakian oleh para wisatawan pencinta alam. Gunung ini memang tidak setinggi Gunung Gede-Pangrango yang juga ada di Jawa Barat. Namun karena mitos dan keangkerannya, gunung ini menjadi sulit untuk didaki.
Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur, yakni jalur Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, Wana Wisata Curug Pilung, Cimelati, Pasir Rengit, dan Ciawi. Belum lagi jalur-jalur tidak resmi yang dibuka para pendaki ataupun masyarakat sekitar.
Banyaknya jalur menuju puncak Gunung Salak dan saling bersimpangan tentu membingungkan para pendaki. Banyak di antaranya yang kemudian tersasar dan menghilang.
Banyak jalur pendakian, maka banyak pula mitos atau kisah yang menyelimuti Gunung Salak. Selain itu, kawasan ini juga dianggap suci oleh masyarakat Sunda wiwitan karena dianggap sebagai tempat terakhir kemunculan Prabu Siliwangi.
Banyak pendaki mengaku mendengar gamelan atau melihat penampakan saat mendaki Gunung Salak. Karena itu, disarankan untuk tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar selama perjalanan untuk menghindari gangguan mahluk halus yang menjadi penunggu, menurut kepercayaan penduduk setempat.
Tidak sedikit pendaki yang ditemukan tewas di Gunung Salak, termasuk beberapa pesawat lain sebelum Sukhoi Superjet-100. Mungkin inilah yang membuat suasana Gunung Salak terasa angker.
Pengamat penerbangan sekaligus pilot pesawat nonkomersial, Alvin Lie, mengatakan di daerah Gunung Salak sering ada kabut. Cuaca buruk ini bisa menyebabkan turbulensi sehingga pesawat tidak stabil. Menurut dia, gunung di perbatasan Bogor-Sukabumi ini rawan untuk pesawat ukuran kecil.
Berada di ketinggian 2.211 meter, kawasan Gunung Salak dikenal sebagai lokasi jatuhnya sejumlah pesawat. Berikut ini datanya:
1. 10 Oktober 2002
Pesawat Trike bermesin PKS 098 jatuh di Lido, Bogor. Korban : 1 tewas.
2. 29 Oktober 2003
Helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Korban : 7 tewas.
3. 15 April 2004
Pesawat paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Korban: 2 tewas.
4. 20 Juni 2004
Pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, di Cijeruk, Bogor. Korban : 5 tewas.
5. Juni 2008
Pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut. Korban : 18 tewas.
6. 30 April 2009
Pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor.
Korban : 3 tewas.
Apakah kejatuhan Pesawat Sukhoi ini sama dengan medan magnetis di Segitiga Gunung Halimun-Salak-Gede ? Kisah serupa banyak kita dengar seperti medan magnetis yang ada di segitiga bermuda dan segitiga formosa ? Wallahu'alam…….
pucanglaban.com informatif, kompetitif dan kreatif bersama berbagi ilmu dan pengetahuan.
Gunung salak ini diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai tempat bersemayam dan turunnya para batara atau dewa dari kahyangan. Untuk itu, masyarakat Sunda klasik sering menyebut Gunung Salak ini sebagai kabuyutan. Peran gunung sebagai kabuyut dapat dilihat dari cerita-cerita rakyat dan tuturan para pini sepuh.
Oleh masyarakat adat yang tinggal di Desa Giri Jaya, Gunung Salak merupakan kawasan yang penting karena menjadi asal usul daerah dan kehidupan mereka. Gunung Salak juga menyimpan banyak misteri kehidupan, di mana masyarakat meyakini bahwa siapa saja yang dapat menemukan atau mengerti rahasia di dalamnya akan menjadi manusia arif.
Pendapat mereka didasarkan atas tafsiran mengenai asal kata "Salak" yang menjadi nama gunung ini. Menurut masyarakat setempat, nama "Salak" berasal dari "Siloka" dan "Salaka" yang berarti "simbol atau tanda dan juga asal-usul".
Masyarakat adat ini setiap tahunnya sering menggelar acara-acara seremonial tradisi, seperti seren taun, muludan, dan lain-lain. Ritual digelar di Gunung Salak karena gunung ini sangat dihormat oleh masyarakat setempat.
Gunung Salak juga dikenal sebagai destinasi wisata pendakian oleh para wisatawan pencinta alam. Gunung ini memang tidak setinggi Gunung Gede-Pangrango yang juga ada di Jawa Barat. Namun karena mitos dan keangkerannya, gunung ini menjadi sulit untuk didaki.
Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur, yakni jalur Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, Wana Wisata Curug Pilung, Cimelati, Pasir Rengit, dan Ciawi. Belum lagi jalur-jalur tidak resmi yang dibuka para pendaki ataupun masyarakat sekitar.
Banyaknya jalur menuju puncak Gunung Salak dan saling bersimpangan tentu membingungkan para pendaki. Banyak di antaranya yang kemudian tersasar dan menghilang.
Banyak jalur pendakian, maka banyak pula mitos atau kisah yang menyelimuti Gunung Salak. Selain itu, kawasan ini juga dianggap suci oleh masyarakat Sunda wiwitan karena dianggap sebagai tempat terakhir kemunculan Prabu Siliwangi.
Banyak pendaki mengaku mendengar gamelan atau melihat penampakan saat mendaki Gunung Salak. Karena itu, disarankan untuk tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar selama perjalanan untuk menghindari gangguan mahluk halus yang menjadi penunggu, menurut kepercayaan penduduk setempat.
Tidak sedikit pendaki yang ditemukan tewas di Gunung Salak, termasuk beberapa pesawat lain sebelum Sukhoi Superjet-100. Mungkin inilah yang membuat suasana Gunung Salak terasa angker.
Pengamat penerbangan sekaligus pilot pesawat nonkomersial, Alvin Lie, mengatakan di daerah Gunung Salak sering ada kabut. Cuaca buruk ini bisa menyebabkan turbulensi sehingga pesawat tidak stabil. Menurut dia, gunung di perbatasan Bogor-Sukabumi ini rawan untuk pesawat ukuran kecil.
Berada di ketinggian 2.211 meter, kawasan Gunung Salak dikenal sebagai lokasi jatuhnya sejumlah pesawat. Berikut ini datanya:
1. 10 Oktober 2002
Pesawat Trike bermesin PKS 098 jatuh di Lido, Bogor. Korban : 1 tewas.
2. 29 Oktober 2003
Helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Korban : 7 tewas.
3. 15 April 2004
Pesawat paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Korban: 2 tewas.
4. 20 Juni 2004
Pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, di Cijeruk, Bogor. Korban : 5 tewas.
5. Juni 2008
Pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut. Korban : 18 tewas.
6. 30 April 2009
Pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor.
Korban : 3 tewas.
Apakah kejatuhan Pesawat Sukhoi ini sama dengan medan magnetis di Segitiga Gunung Halimun-Salak-Gede ? Kisah serupa banyak kita dengar seperti medan magnetis yang ada di segitiga bermuda dan segitiga formosa ? Wallahu'alam…….
pucanglaban.com informatif, kompetitif dan kreatif bersama berbagi ilmu dan pengetahuan.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)